Mengelola produk di satu toko mungkin masih terasa sederhana. Namun, ketika bisnis mulai berjualan di banyak marketplace, webstore, dan toko offline, pencatatan produk bisa menjadi jauh lebih kompleks.
Satu produk yang sama dapat memiliki nama, variasi, hingga kode SKU yang berbeda di setiap channel. Jika tidak dikelola dengan standar yang jelas, kondisi ini dapat menyebabkan stok tidak sinkron, produk tercatat ganda, kesalahan pengambilan barang, hingga pembatalan pesanan karena jumlah persediaan tidak akurat.
Dalam artikel ini, kita akan membahas pengertian SKU, masalah SKU yang umum dialami seller multichannel, cara membuat Master SKU, serta solusi untuk mempermudah pencocokan produk marketplace secara lebih cepat dan akurat.
Apa itu SKU?
SKU (Stock Keeping Unit) adalah kode unik yang digunakan bisnis untuk mengidentifikasi dan membedakan setiap produk berdasarkan karakteristik jenis, merek, warna, ukuran, atau variasi lainnya.
Sebagai contoh, satu model kaos memiliki tiga ukuran dan dua warna. Setiap kombinasi membutuhkan SKU berbeda:
- Botol hitam ukuran M: BTL-HTM-M
- Botol hitam ukuran L: BTL-HTM-L
- Botol putih ukuran M: BTL-PTH-M
Dengan SKU, bisnis dapat melacak jumlah stok, penjualan, lokasi penyimpanan, serta pergerakan setiap variasi produk secara lebih akurat.
Penggunaan SKU juga membantu mencegah kesalahan saat proses pencarian barang, picking, packing, stock opname, dan pemrosesan pesanan.
SKU biasanya dibuat dan ditentukan sendiri oleh bisnis sesuai kebutuhan operasional. Hal ini berbeda dengan barcode yang umumnya digunakan untuk memindai produk menggunakan perangkat scanner.
Permasalahan SKU yang Sering Dialami Seller yang Memiliki Banyak Toko
Semakin banyak toko dan marketplace yang dikelola, semakin kompleks pula pengelolaan SKU. Setiap channel dapat memiliki format, nama, dan struktur SKU yang berbeda.
1. Format SKU Berbeda di Setiap Toko
Satu produk yang sama sering kali memiliki SKU berbeda di setiap marketplace. Misalnya, produk botol hitam ukuran L menggunakan kode BTL-HTM-L di satu toko, sedangkan di toko lain tercatat sebagai BOTOL-HITAM-L.
Perbedaan tersebut membuat sistem sulit mengenali bahwa kedua SKU mengacu pada produk yang sama yang mengakibatkan penjual harus melakukan pencocokan secara manual sebelum stok dan pesanan dapat dikelola secara terpusat.
2. SKU Kosong atau Tidak Diisi
Sebagian produk dapat terunggah tanpa SKU ketika katalog dibuat secara manual atau dipindahkan dari sistem lama.
SKU yang kosong menyulitkan penjual dalam mengidentifikasi produk, melacak stok, dan menghubungkan katalog antar-channel.
Masalah ini menjadi semakin rumit ketika toko memiliki ratusan hingga ribuan produk dengan banyak variasi.
3. Satu SKU Digunakan untuk Beberapa Produk
Kesalahan lain yang cukup sering terjadi adalah penggunaan satu kode SKU untuk dua atau lebih produk yang berbeda. Kondisi ini dapat membuat sistem mencatat penjualan dan stok pada produk yang salah.
Sebagai contoh, SKU yang sama digunakan untuk baju ukuran M dan ukuran L. Ketika terjadi penjualan, sistem berisiko mengurangi stok dari variasi yang tidak sesuai.
4. Satu Produk Memiliki Banyak SKU
Satu produk yang sama juga dapat memiliki beberapa SKU karena dibuat oleh admin, toko, atau tim yang berbeda yang membuat stok produk tersebut terbagi ke dalam beberapa pencatatan.
Penjual dapat mengira stok sudah habis di satu toko, padahal produk yang sama masih tercatat menggunakan SKU berbeda di toko lainnya.
5. Penamaan SKU Tidak Konsisten
SKU yang dibuat tanpa standar biasanya memiliki pola penamaan yang tidak seragam. Ada SKU yang menggunakan nama produk, angka acak, singkatan warna, atau kode dari supplier.
Ketidakkonsistenan ini membuat tim lebih sulit membaca SKU, mencari produk, melakukan pengecekan, serta mengidentifikasi kesalahan data.
Cara Mengatasi Permasalahan SKU dengan Membuat Master SKU
Master SKU adalah kode utama yang digunakan sebagai acuan untuk menghubungkan produk yang sama dari berbagai toko, marketplace, gudang, dan channel penjualan.
Berikut langkah-langkah yang dapat dilakukan untuk membangun Master SKU.
1. Audit Seluruh SKU dari Setiap Toko
Langkah pertama adalah mengumpulkan seluruh data SKU dari marketplace, webstore, toko fisik, gudang, dan sistem lama yang digunakan.
Audit ini membantu penjual menemukan SKU kosong, SKU ganda, SKU dengan format yang berbeda, serta produk yang belum terhubung dengan benar.
2. Tentukan Standar Penulisan SKU
Bisnis perlu menetapkan struktur SKU yang konsisten dan mudah dipahami oleh tim. Format SKU sebaiknya menggambarkan identitas penting dari suatu produk.
Bisa gunakan format seperti ini: Kategori-Model-Warna-Ukuran
Standar ini perlu digunakan secara konsisten untuk seluruh produk baru agar masalah SKU tidak kembali terulang.
3. Buat Satu Master SKU untuk Setiap Variasi
Setiap variasi produk harus memiliki Master SKU yang berbeda. Warna, ukuran, motif, rasa, kapasitas, atau isi kemasan perlu diperlakukan sebagai unit stok tersendiri.
Misalnya, satu produk sepatu memiliki dua warna dan dua ukuran:
- Botol hitam ukuran M: BTL-01-HTM-M
- Botol hitam ukuran L: BTL-01-HTM-L
- Botol putih ukuran M: BTL-01-PTH-M
4. Hubungkan SKU Toko ke Master SKU
Setelah Master SKU dibuat, seluruh SKU dari marketplace perlu dipetakan ke kode utama tersebut.
Contohnya:
| Channel Penjualan | SKU Toko | Master SKU |
|---|---|---|
| Shopee | KAOS-HITAM-M | TS-001-BLK-M |
| Tokopedia | TSHIRT-BLK-M | TS-001-BLK-M |
| TikTok Shop | TS01-HM | TS-001-BLK-M |
Meskipun kode SKU di setiap channel berbeda, seluruhnya tetap mengarah ke satu Master SKU. Ketika produk terjual di salah satu channel, stok pusat dapat langsung diperbarui.
5. Lakukan Sinkronisasi Stok Antar-Channel
Master SKU perlu dihubungkan dengan sistem sinkronisasi stok. Setiap transaksi dari marketplace akan mengurangi stok pada Master SKU yang sama.
Misalnya, stok produk dengan Master SKU TS-001-BLK-M tersedia sebanyak 50 unit. Ketika 3 unit terjual di Shopee, stok pusat menjadi 47 dan jumlah yang tersedia di channel lain ikut diperbarui.
Cara ini membantu mengurangi risiko overselling, pembatalan pesanan, dan selisih stok antar toko.
Permudah Pencocokan Produk Marketplace ke SKU Master Lewat Visual Matching Jubelio
Dengan menggunakan fitur Visual Matching katalog di Jubelio, kamu dapat memilih dan merapikan produk-produk yang SKU-nya perlu digabungkan berdasarkan hasil rekomendasi dari sistemnya.
Adanya sistem ini, membantu kamu untuk mengatasi SKU yang berbeda atau duplikat yang dapat menyebabkan kesulitan dalam melakukan proses perekapan jumlah stok yang ada di marketplace.
Kamu bisa coba fitur pencocokan SKU / visual matching katalog di Jubelio secara GRATIS sekarang juga!