Mendekati bulan Ramadhan, biasanya beberapa produk yang berhubungan dengan makanan, pakaian atau sejenisnya akan mengalami lonjakan permintaan. Hal ini tentunya akan menjadi sebuah tantangan bagi beberapa penjual / seller yang bisnisnya bergantung pada tren ini.
Ada beberapa masalah-masalah yang sering dialami oleh seller pada saat bulan Ramadhan tiba, penasaran seperti apa masalah yang sering ditemui? Simak artikel berikut ini.
1. Perubahan pola permintaan dan perilaku belanja
Menjelang dan selama Ramadhan, permintaan biasanya naik tajam namun tidak merata. Ada beberapa kategori yang melonjak seperti makanan minuman untuk sahur / berbuka, bahan pokok, fashion muslim, perlengkapan ibadah, hampers, kebutuhan rumah tangga, hingga personal care, sementara kategori lain justru stagnan.
Selain volume, jam belanja juga akan bergeser, trafik dan chat cenderung ramai di jam menjelang berbuka, setelah tarawih, dan dini hari.
Hal ini dapat membuat seller sering kewalahan mengatur ritme operasional dan CS karena puncak aktivitas tidak lagi di jam biasanya.
Ini juga akan memengaruhi konversi apabila respon lambat di jam-jam puncaknya, pembeli bisa cepat-cepat pindah ke brand kompetitor yang lebih sigap.
2. Stok, supply chain, dan ketidakpastian ketersediaan barang
Masalah paling klasik saat Ramadhan adalah stok tidak siap menghadapi lonjakan, sementara suplai dari vendor / supplier ikut tersendat karena semua pihak mengejar barang yang sama.
Lead time bisa molor, barang substitusi tidak selalu tersedia, dan harga modal kadang naik mendadak. Banyak seller yang tampak ramai dari sisi order, malah justru bocor performanya karena varian-varian favorit (ukuran, warna, rasa, kemasan tertentu) habis duluan sehingga listing jadi sebagian besar out of stock.
3. Kompetisi pasar, perang harga, dan tekanan margin
Ramadhan adalah musim dimana semua seller akan memanfaatkan promo, sehingga kompetisi makin ketat dan perang harga sering tidak terhindarkan.
Mulai dari diskon, bundling, flash sale, voucher, hingga gratis ongkir. Banyak seller terjebak ikut-ikutan tanpa menghitung biaya platform fee, ongkir subsidi, biaya packaging, serta biaya iklan, padahal margin makin tipis.
Jika strategi harga tidak dibangun dari perhitungan unit economics yang jelas, seller bisa terlihat menang dari sisi omzet padahal rugi dari sisi profit atau bahkan kehabisan arus kas karena terlalu agresif memberi insentif.
4. Lonjakan biaya iklan dan tantangan menjaga efektivitas marketing
Di periode Ramadhan, biaya iklan digital sering naik karena inventory iklan diperebutkan banyak brand yang mengakibatkan CPC/CPM meningkat dan efisiensi bisa menurun.
Seller juga bisa mengalami salah target pasar karena audiens lebih sensitif terhadap value (promo, kecepatan kirim, trust), sehingga materi iklan dan penawaran yang biasanya efektif di bulan normal perlu disesuaikan agar tetap relevan dan tidak sekadar menambah traffic tanpa pembelian.
5. Operasional harian pick-pack, akurasi pesanan, dan SLA
Saat order melonjak, bottleneck paling nyata biasanya terjadi di proses gudang seperti picking jadi lama, packing menumpuk, dan risiko human error meningkat (salah varian, salah jumlah, tertukar alamat).
Pada skala tertentu, kapasitas proses yang tidak sebanding dengan volume. Seller yang tidak punya SOP sederhana seperti misalnya sistem label, staging area, pengecekan dua langkah, pembagian shift lebih rentan mengalami keterlambatan dan komplain massal.
6. Pengiriman dan kapasitas logistik yang sering overload
Ramadhan biasanya identik dengan lonjakan kiriman nasional, sehingga kurir dan hub sortir rawan penuh. Pickup bisa telat, drop point antri, dan status tracking sering nyangkut lebih lama dari biasanya.
Untuk produk sensitif (makanan, minuman, hampers, barang pecah belah, produk cair), delay kecil saja bisa memicu kerusakan, kebocoran, atau kualitas turun.
Selain itu, mendekati Lebaran pasti ada fenomena panic buying dan permintaan kirim cepat, sehingga buyer makin tidak sabar yang membuat seller yang tidak mengelola ekspektasi estimasi pengiriman dengan jelas akan lebih sering berhadapan dengan chat komplain dan permintaan percepatan yang sulit dipenuhi.
7. Customer service membludak dan ekspektasi layanan meningkat
Di musim ramai, jumlah chat, pertanyaan, dan follow-up biasanya naik drastis mulai yang dari tanya stok, tanya promo, minta ubah alamat, minta percepat kirim, sampai minta rekomendasi varian. Jika respons CS terlambat, peluang closingnya menjadi turun.
8. Risiko COD, pembatalan, retur, dan fraud kecil-kecilan
Ketika volume order naik, otomatis probabilitas masalah juga ikut naik seperti pembatalan, retur karena salah ukuran / warna, barang tidak sesuai ekspektasi, hingga kasus COD gagal bayar atau buyer tidak ada di tempat.
9. Kualitas produk, packaging, dan kontrol mutu yang sering terlewat
Ramadhan banyak memunculkan produk yang sensitif terhadap kualitas dan presentasi terutama di ranah food & beverage dan hampers.
Tantangannya adalah menjaga konsistensi rasa, isi, berat, masa simpan, serta tampilan packaging. Di saat workload tinggi, QC sering terburu-buru sehingga detail kecil terlewatkan.
10. Arus kas, kebutuhan modal kerja, dan risiko tekor
Masalah yang sering tidak disadari adalah tekanan cashflow. Seller harus menambah stok lebih awal, menambah material packaging, mungkin menambah tenaga harian, serta menaikkan budget iklan yang semuanya membutuhkan biaya di awal.
Sementara itu, pencairan dana dari platform atau tempo pembayaran bisa membuat uang masuk tertahan. Jika penetapan harga tidak memperhitungkan biaya total (COGS, fee, subsidi promo, iklan, retur), seller bisa mengalami situasi omzet besar tapi laba kecil, dan paling buruknya bahkan minus.
Kondisi ini berbahaya karena di tengah periode ramai, keputusan yang salah dapat mengunci dana di inventory yang setelah Lebaran permintaannya turun tajam.
11. Transisi menjelang Lebaran dan cut-off pengiriman
Mendekati Lebaran, tantangan berubah dari mengejar penjualan menjadi mengejar deadline. Buyer semakin panik dan menuntut kepastian barang sampai sebelum hari H, sementara kapasitas kurir justru makin padat.
Seller sering terjebak dengan mengiyakan permintaan kirim cepat yang pada akhirnya berujung komplain ketika pihak logistik tidak mendukung.
Solusi Atasi Lonjakan Orderan Saat Bulan Ramadan dengan Sistem Omnichannel Jubelio

Mengelola bisnis dengan banyak channel penjualan menghadirkan tantangan yang tidak sedikit. Mulai dari stok yang tidak sinkron antar marketplace, pesanan yang menumpuk saat traffic tinggi, hingga laporan keuangan yang tersebar di banyak sistem.
Untuk menjawab tantangan tersebut, Anda membutuhkan sistem yang terintegrasi, Di sinilah Jubelio berperan.
Jubelio Omnichannel Marketplace adalah platform omnichannel commerce yang dirancang untuk membantu pemilik bisnis mengelola operasional secara lebih rapi, efisien, dan terkontrol, baik untuk penjualan online maupun offline.
Semua aktivitas bisnis disatukan dalam satu ekosistem, sehingga Anda bisa lebih fokus pada pengembangan usaha.
Mulai dari pengelolaan stok real-time, manajemen produk di berbagai marketplace, pemrosesan pesanan, pengaturan pengiriman, hingga pencatatan otomatis ke sistem akuntansi, semuanya berjalan dalam satu dashboard yang saling terhubung.
Jubelio juga sudah terintegrasi langsung dengan berbagai marketplace besar di Indonesia seperti Shopee, Tokopedia, Lazada, Blibli, Bukalapak, Zalora, dan lainnya.
Ingin membangun toko online milik sendiri? Dengan fitur Jubelio Store, Anda bisa membuat website e-commerce profesional dalam waktu singkat tanpa perlu keahlian teknis. Website ini langsung terhubung dengan seluruh channel penjualan, sehingga pengelolaan stok dan pesanan tetap terpusat.
Bagi Anda yang menjalankan toko fisik, tersedia juga Jubelio POS yang membantu mencatat transaksi offline dengan cepat dan akurat, sekaligus menyinkronkannya dengan penjualan online. Semua data penjualan masuk ke sistem yang sama, memudahkan kontrol dan laporan.
Urusan komunikasi pelanggan pun jadi lebih sederhana dengan Jubelio Chat. Semua pesan dari berbagai marketplace dan platform chat terkumpul dalam satu dashboard, sehingga tim Anda bisa merespons lebih cepat dan konsisten.
Sementara untuk logistik, Jubelio Shipment menghubungkan bisnis Anda dengan berbagai jasa pengiriman terpercaya sebagai solusi 3PL (third-party logistics). Proses pengiriman jadi lebih praktis, minim kesalahan input, dan lebih hemat waktu.
Jika Anda ingin operasional bisnis yang lebih tertata, scalable, dan siap berkembang, Jubelio bisa menjadi fondasi sistem yang Anda butuhkan.
Coba seluruh fitur Jubelio secara GRATIS dengan klik tombol di bawah ini!