Apa itu Harga Coret?
Harga coret (sering juga disebut strikethrough price, harga sebelum diskon, atau reference price) adalah harga pembanding yang ditampilkan dalam format dicoret untuk menunjukkan bahwa harga jual saat ini lebih rendah karena ada promo atau penurunan harga.
Harga coret berfungsi sebagai patokan nilai di mata pembeli dimana pembeli akan melihat harga awal sebagai acuan, lalu menilai harga sekarang sebagai kesempatan lebih hemat.
Manfaat Strategi Harga Coret
1. Diskon mudah dilihat langsung oleh pembeli
Harga coret membuat pembeli langsung menangkap perbandingan sebelum vs sesudah tanpa perlu hitung manual. Ini mempercepat pemahaman sebesar apa promo yang diberikan penjual.
2. Meningkatkan persepsi hemat dan value produk
Dengan ada patokan harga awal, harga sekarang terasa lebih worth it. Secara psikologis, pembeli menilai nilai barang dari harga referensi lalu merasa mendapatkan deal yang lebih bagus dengan harga diskon / coret ini.
3. Mendorong keputusan beli lebih cepat
Harga coret sering memicu efek kesempatan / urgensi untuk membeli. Jika digabung dengan elemen lain seperti limited time, flash sale, atau stok terbatas, dorongannya makin kuat untuk segera checkout.
4. Menaikkan conversion rate
Karena diskon lebih jelas dan value lebih terasa, banyak bisnis melihat harga coret membantu meningkatkan klik ke halaman produk, add-to-cart (memasukkan produk ke keranjang), checkout.
5. Memperkuat daya saing di listing & marketplace
Di halaman kategori atau hasil pencarian, harga coret membuat produk lebih menonjol dibanding yang hanya menampilkan satu harga.
6. Mengurangi resistensi kemahalan
Buat calon pembeli yang sensitif harga, harga coret memberi konteks bahwa harga saat ini lebih rendah dari normal, sehingga menurunkan rasa keberatan yang menganggap harganya mahal.
7. Membantu strategi promosi dan segmentasi
Harga coret bisa dipakai untuk berbagai strategi seperti promo musiman (payday, harbolnas), clearance sale, bundling (harga coret = total harga satuan), diskon member / loyalty.
8. Mendukung komunikasi marketing (iklan & materi promo)
Harga coret memudahkan membuat headline yang jelas seperti Diskon 25%, Hemat Rp75.000, Dari Rp300.000 jadi Rp225.000”, hal ini sangat berguna untuk banner, landing page, dan ads.
9. Meningkatkan trust
Kalau harga coret berasal dari harga normal yang memang pernah berlaku (atau MSRP resmi), pembeli merasa promo transparan dan fair, sehingga kepercayaan meningkat.
Cara Membuat Harga Coret
1. Menentukan Harga Referensi (Harga yang Dicoret)
Cara membuat harga coret dimulai dari memilih harga referensi yang akan dicoret, yaitu harga pembanding yang valid dan bisa dipertanggungjawabkan.
Umumnya ini berasal dari harga normal yang memang pernah berlaku di tokomu, harga reguler saat tidak promo, atau harga rujukan resmi brand (MSRP / price list) bila kamu punya acuannya.
Tujuannya agar harga coret benar-benar menjadi patokan sebelum diskon, bukan sekadar angka yang dibuat agar terlihat murah.
2. Menghitung Harga Promo yang Aman untuk Bisnis
Setelah itu, tentukan harga promo sebagai harga yang benar-benar dibayar pembeli. Penentuannya sebaiknya tidak asal potong persen, tetapi dihitung dari HPP, biaya operasional, fee marketplace / platform, biaya iklan (jika ada), subsidi ongkir / voucher, dan target margin minimal.
Dengan begitu, promo tetap menarik dan keuntungan tidak tergerus atau bahkan rugi.
3. Menetapkan Mekanisme, Periode, dan Syarat Promo
Berikutnya, pilih mekanisme promonya, misalnya diskon langsung, flash sale, bundling, atau harga khusus member, lalu tetapkan periode promo serta syaratnya dengan jelas seperti kuota stok promo, minimal pembelian, atau ketentuan metode pembayaran.
Hal ini memberikan kejelesan agar pembeli tidak merasa dibohongi dengan harga promonya.
4. Menerapkan di Channel Penjualan (Website / Marketplace)
Saat implementasi, pastikan sistem penjualanmu memiliki dua komponen harga: harga normal (yang ditampilkan dicoret) dan harga promo (yang tampil sebagai harga aktif).
Di website, ini biasanya ada pada field “regular price” dan “sale price”, sedangkan di marketplace umumnya tersedia fitur diskon / promo yang otomatis menampilkan harga coret dan harga setelah diskon.
5. Mengecek Konsistensi Tampilan dan Checkout
Sebelum promo tayang, lakukan pengecekan agar harga yang tampil di listing dan halaman produk konsisten hingga keranjang dan pembayaran.
Tampilan idealnya membuat pembaca langsung paham: harga coret lebih kecil dan dicoret, harga promo lebih menonjol, dan bisa ditambah informasi “Hemat RpX” atau “Diskon X%” agar benefitnya semakin jelas.
6. Monitoring dan Optimasi Setelah Promo Berjalan
Setelah berjalan, pantau performanya seperti klik, add-to-cart, conversion rate, margin bersih, serta komplain / retur.
Jika conversion naik tetapi margin turun drastis, kamu bisa optimasi dengan menurunkan diskon, mengganti strategi ke bundling/bonus, atau menetapkan syarat minimal pembelian agar hasilnya tetap menguntungkan untuk bisnis.
Maksimalkan promo dengan fitur Harga Coret Jubelio. Atur diskon dan harga promo di semua marketplace lewat satu dashboard praktis
- Menentukan Harga Coret berdasarkan Persentase
- Atur Kuota Stok Produk Promosi
- Atur Jumlah Maksimal Produk yang bisa Dibeli
- Ubah Harga Coret Promosi
- Menonaktifan Harga Coret


Contoh Implementasi Harga Coret
Misalkan, kamu menjual baju dengan harga Rp300.000 sebagai harga normal dan kamu ingin memberikan harga coret terhadap produk tersebut.
Contoh:
- Harga normal (dicoret): Rp300.000
- Harga promo (aktif): Rp225.000
- Label: Diskon 25% / Hemat Rp75.000
Cara hitung:
- Hemat = 300.000 – 225.000 = 75.000
- Diskon (%) = 75.000 / 300.000 × 100% = 25%
Strategi & Tips Membuat Harga Coret
1. Pastikan Harga Coret Sama Dengan Harga Referensi yang Valid
Harga yang dicoret harus punya dasar (pernah dipakai sebagai harga normal, atau memang harga reguler yang biasa berlaku, atau harga rujukan resmi brand).
Kalau harga coret asal tinggi hanya supaya diskon terlihat besar, efeknya bisa berdampak buruk seperti trust turun, komplain naik, dan performa promo justru jelek.
2. Pilih Produk yang Tepat untuk Dikasih Harga Coret
Tidak semua produk cocok diberi harga coret, pastikan beri harga coret pada produk best seller (jadi terlihat makin worth it), produk yang perlu dorongan konversi, produk musiman, atau produk clearance.
Untuk produk baru / unik, kadang lebih efektif pakai bonus atau bundling daripada diskon besar.
3. Hitung Harga Promo dari Margin
Sebelum menentukan harga promo, hitung dulu komponen biaya HPP, fee platform, operasional packing, subsidi ongkir / voucher, dan biaya iklan (kalau mau pasang ads).
Setelah itu baru tentukan diskon yang masih aman untuk margin.
4. Buat Diskon Terasa Jelas dengan “Hemat Rp” atau “%”
Harga coret akan lebih menonjol kalau kamu tambahkan tag Diskon X% atau Hemat RpX.
Untuk harga produk kecil-menengah, “Hemat RpX” sering lebih mudah dipahami, sedangkan untuk harga besar, “Diskon X%” biasanya lebih menarik.
5. Tampilkan dengan Hierarki Visual yang Benar
Agar tidak membingungkan, tampilan harga promo paling besar dan paling jelas, harga coret lebih kecil dan dicoret, lalu info diskon /hemat sebagai pendukung.
Pastikan tampilan di mobile tetap terbaca (karena kebanyakan traffic datang dari mobile).
6. Jaga Konsistensi Harga dari Listing sampai Checkout
Salah satu penyebab komplain terbesar adalah harga terlihat A di listing, berubah jadi B di keranjang / checkout.
7. Pakai Bundling untuk Diskon Terlihat Besar Tanpa Menghancurkan Margin
Kalau margin kamu ketat, bundling sering lebih aman. Contoh: harga coret bundle = total harga satuan, lalu harga promo = harga paket.
Ini terasa sangat logis di mata pembeli dan biasanya lebih aman secara profit dibanding potong harga satuan terlalu dalam.
8. Tentukan Periode & Syarat Promo Secara Transparan
Harga coret makin dipercaya kalau kamu jelas beri tahu periode promo, kuota stok promo (jika ada), syarat minimal belanja, atau khusus member/metode bayar.
9. Hindari Memberi Diskon Terlalu Sering di Produk yang Sama
Kalau produk hampir selalu promo, pembeli lama-lama menganggap harga coret itu “pura-pura” dan mereka akan menunggu diskon terus.
Kamu bisa atur ritme promo (misalnya payday / seasonal), atau variasikan penawarannya (bonus, bundling, gratis ongkir).
10. Uji dan Optimasi
Setelah jalan, pantau metrik CTR, add-to-cart, conversion rate, AOV, margin bersih per order, return / komplain.
Kalau conversion naik tapi margin turun, coba kecilkan diskon, pindah ke bundling, tambah minimal belanja, atau ubah copywritingnya.
