Apa itu Stok Produk Laku?
Stok produk laku adalah barang yang perputaran penjualannya cepat seperti sering dibeli, cepat habis, dan rutin keluar dari gudang.
Ciri-cirinya:
- Sering ada transaksi / penjualan
- Stok cepat menipis lalu restock lagi
- Perputaran produk tinggi
- Sering jadi produk andalan atau best seller
Apa itu Stok Tidak Laku?
Stok tidak laku adalah barang yang jarang atau tidak terjual dalam periode tertentu, sehingga stoknya lama mengendap di gudang.
Ciri-cirinya:
- Penjualan rendah atau tidak ada sama sekali
- Umur simpan di gudang panjang
- Risiko menumpuk, rusak, kadaluarsa (jika ada masa berlaku)
- Mengikat modal dan biaya penyimpanan
11 Penyebab Produk Tidak Laku Dijual
1. Produk Tidak Sesuai Kebutuhan Pasar
Barang bisa tidak laku karena produknya tidak benar-benar dibutuhkan atau tidak relevan dengan masalah yang ingin diselesaikan pelanggan.
Ini sering terjadi saat bisnis menebak tren tanpa adanya riset terlebih dahulu, memilih varian yang kurang diminati, atau menawarkan fitur yang tidak dianggap penting oleh target pembeli.
2. Harga Tidak Seimbang dengan Nilai
Penyebab paling umum berikutnya adalah harga yang dianggap terlalu tinggi dibandingkan dengan manfaat yang dirasakan.
Total biaya yang dilihat pelanggan seperti ongkir, biaya layanan, minimum pembelian, atau paket bundling juga menjadi hal yang sering pembeli pertimbangkan yang membuat total menjadi mahal.
Jika kompetitor menawarkan value yan lebih baik (bonus, ukuran lebih besar, kualitas) pada harga yang hampir mirip, produk kita akan kalah bersaing.
3. Target Market dan Positioning Kurang Tepat
Produk bisa gagal terjual karena dipasarkan ke audiens yang salah. Misalnya, produk premium ditawarkan ke segmen target pasar yang sensitif dengan harga, atau produk yang lebih cocok untuk komunitas tertentu malah dipromosikan ke pasar umum.
Positioning yang tidak jelas juga membuat pelanggan bingung, apakah produk ini untuk pemula, untuk kebutuhan harian, atau untuk kebutuhan khusus, sehingga mereka memilih produk lain yang lebih mengerti kebutuhan mereka.
4. Kurang Kepercayaan dan Social Proof
Di banyak kasus, pelanggan sebenarnya tertarik, tetapi ragu untuk membeli karena tidak ada bukti bahwa produk dan penjual bisa dipercaya.
Minim testimoni, rating rendah, review sedikit, foto toko kurang meyakinkan, atau tidak adanya jaminan / garansi membuat calon pembeli menunda keputusan.
5. Visual dan Konten yang Buruk
Barang tidak laku juga sering disebabkan presentasi produk yang kurang kuat. Foto tidak jelas, tidak menunjukkan detail, tidak ada foto pemakaian, atau pencahayaan buruk membuat pelanggan tidak yakin dengan kondisi produk.
Judul yang tidak mengandung kata kunci pencarian membuat produk sulit ditemukan. Deskripsi yang tidak menjelaskan manfaat, ukuran, bahan, cara pakai, dan keunggulan akan memperbesar keraguan yang ujungnya menurunkan minat untuk membeli.
6. Distribusi dan Promosi Tidak Optimal
Produk bagus tetap bisa tidak laku jika tidak didorong dengan strategi pemasaran. Bisa karena tidak pernah ikut campaign, tidak diiklankan, tidak di-boost, atau channel penjualan tidak sesuai karakter pembeli.
Selain itu, pengaturan kategori, atribut, dan keyword yang keliru membuat produk jarang muncul di pencarian. Intinya, produk tidak laku bukan selalu karena produknya yang jelek, bisa jadi karena orang tidak pernah melihat produk itu ada.
7. Kompetisi Tinggi dan Tidak Ada Pembeda
Di kategori yang ramai, pelanggan punya banyak pilihan serupa. Jika produk tidak memiliki pembeda yang jelas (USP) seperti kualitas yang terukur, garansi, bonus, bundling yang masuk akal, desain unik, atau keunggulan fungsi, maka keputusan pembelian akan jatuh ke produk yang lebih familiar atau lebih meyakinkan.
8. Salah Kelola Stok dan Varian
Barang bisa menumpuk karena komposisi stoknya tidak sesuai dengan permintaan yang ada. Varian favorit sering kosong, sementara varian yang kurang diminati justru menumpuk.
Kesalahan forecasting, salah prioritas restock, atau pembelian stok berdasarkan asumsi juga membuat perputaran melambat.
Dalam banyak bisnis, masalah barang tidak laku sebenarnya adalah masalah pada stok yang tidak tepat (jenis / warna / ukuran / modelnya tidak sesuai yang dicari oleh pasar).
9. Faktor Musiman dan Perubahan Tren
Ada produk yang hanya ramai pada momen tertentu, sehingga ketika lewat musimnya, permintaan turun tajam. Produk trend-based juga sangat rentan pergerakannya, begitu tren bergeser, pelanggan pindah ke model baru.
Jika stok masih banyak ketika momentum selesai, barang bisa jadi tidak laku.
10. Pengalaman Pelanggan Buruk
Barang yang sebenarnya diminati bisa jadi tidak laku karena pengalaman belanja yang buruk. Respon chat lambat, pengemasan mengecewakan, pengiriman lama, proses retur rumit, atau deskripsi tidak sesuai barang membuat rating turun dan menurunkan kepercayaan calon pembeli.
11. Kualitas Produk Tidak Konsisten
Jika produk sering bermasalah seperti mudah rusak, tidak sesuai spesifikasi, atau kualitasnya naik turun maka pelanggan enggan melakukan repeat order dan buyer baru ikut ragu.
Solusi ini membantu Anda memisahkan mana produk yang sering tidak laku dan mana yang paling cepat terjual berdasarkan data pergerakan stok. Anda bisa langsung melihat barang yang lama mengendap di gudang dan produk yang perlu diprioritaskan karena permintaannya tinggi.
- Posisi Stok Saat Ini
- Stok Tidak Laku
- Stok Paling Laku
- Perkiraan Stok Habis
- Stok Menipis
- Stok Sedang Dipesan
- Stok Gagal Sinkron
- Stok Kosong
- Stok yang akan Expired


Solusi untuk Mengatasi Produk yang Tidak Laku dan Sering Laku dengan Sistem Jubelio
Dengan sistem omnichannel Jubelio, kamu bisa mengatasi produk tidak laku dan mengoptimalkan produk sering laku lewat 3 hal utama yaitu monitoring pergerakan stok, otomasi tindakan, dan kontrol pembelian / restock berbasis data.
1. Mengatasi Produk Tidak Laku (Slow Moving / Dead Stock) lewat Sistem
Sistem akan mengklasifikasikan barang berdasarkan perputaran. Di aplikasi, kamu bisa pakai laporan seperti pergerakan stok, umur stok (aging), atau penjualan per SKU untuk menandai barang yang tidak bergerak selama periode tertentu.
Setelah terdeteksi, jalankan tindakan berbasis aturan. Produk yang masuk kategori slow moving bisa diberi label promo, memberikan diskon bertahap, bundling, atau paket.
Sistem juga bisa membantu menghindari makin parahnya dead stock dengan membatasi reorder, ketika barang sudah masuk kategori lambat, kamu tidak perlu restock lagi sebelum stoknya turun.
2. Mengelola Produk Sering Laku (Fast Moving) agar Tidak Kehabisan
Untuk produk yang sering laku, fokusnya adalah mencegah stockout dan menjaga ritme restock. Di aplikasi, kamu bisa set minimum stock / safety stock, lalu ketika stok melewati batas minimum, sistem akan memunculkan notifikasi peringatan untuk restock.
Dengan begitu, stok fast moving tetap tersedia, pesanan tidak tertahan, dan kamu tidak kehilangan penjualan.
Selain itu, aplikasi bisa membantu menjaga kualitas operasional, karena fast moving biasanya volumenya tinggi, sistem mempermudah proses picking / packing, mengurangi salah ambil barang, dan menjaga kecepatan pemenuhan order.
